BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1
Memahami Karakteristik Ban Pada Kendaraan
2.2.2 Pengertian & Sejarah
Umum Ban
Ban adalah peranti
yang menutupi velg suatu roda. Ban adalah bagian penting dari kendaraan darat yang digunakan untuk mengurangi
getaran yang disebabkan ketidakteraturan permukaan jalan, melindungi roda dari aus dan
kerusakan, serta memberikan kestabilan antara kendaraan dan tanah untuk
meningkatkan percepatan dan mempermudah pergerakan. Sebagian besar ban yang ada
sekarang, terutama yang digunakan untuk kendaraan
bermotor, diproduksi dari karet
sintetik, walaupun dapat juga digunakan dari bahan lain seperti baja.
Ban adalah salah satu komponen penting
yang mempengaruhi gerak laju akselerasi sebuah kendaraan seperti mobil, tanpa
ban maka sebuah kendaraan bagaikan sebuah alat yang tidak berfungsi.
Menurut fungsinya selain untuk
meningkatkan kecepatan, ban juga mempunyai fungsi sebagai komponen yang bisa
mengurangi getaran pada jalan dan sebagai pencegah ausnya roda dari gesekan
dengan tanah atau jalan.
Pada tahun 1839, Charles Goodyear berhasil menemukan teknik vulkanisasi karet. Vulkanisasi sendiri berasal
dari kata Vulkan yang merupakan dewa api dalam agama orang romawi. Pada mulanya
Goodyear tidak menamakan penemuannya itu dengan nama vulkanisasi melainkan
karet tahan api. Untuk menghargai jasanya, nama Goodyear diabadikan sebagai
nama perusahaan karet terkenal di Amerika Serikat yaitu Goodyear Tire and Rubber company yang didirikan oleh Frank Seiberling pada tahun 1898. Goodyear
Tire & Rubber Company mulai berdiri pada tahun 1898 ketika Frank Seiberling
membeli pabrik pertama perusahaan ini dengan menggunakan uang yang dia pinjam
dari salah seorang iparnya.
Pada tahun 1845 Thomson dan Dunlop menciptakan ban atau pada waktu itu disebut ban hidup alias ban
berongga udara. Sehingga Thomson dan Dunlop disebut Bapak Ban. Dengan
perkembangan teknologi Charles Kingston Welch menemukan ban dalam, sementara William Erskine Bartlett menemukan ban luar.
2.1.2 Jenis-Jenis Ban
1. Ban Bias
Ban dengan struktur bias adalah yang paling banyak dipakai oleh
sebagian pengguna kendaraan bermotor. Carcass untuk ban bias (bias-ply tire)
tersusun dari lapisan-lapisan benang yang membentuk sudut 30º-40º terhadap
garis tengah ban.

Gambar 2.1 Ban Bias
Susunan seperti ini dirancang untuk menopang beban pada arah
memanjang dan arah melintang. Akan tetapi pada saat menerima beban vertikal,
lapisan benang cenderung menggeliat seperti diperlihatkan pada gambar di bawah.

Gambar 2.2 Perbedaan Ban Bias
& Radial
Seperti pada gambar diatas dapat disimpulkan bahwa keadaan berbanding
terbalik dengan ban radial, yang dimana ban radial tersebut tidak menggeliat
sama sekali. Ban bias menghasilkan jalannya lebih lembut, akan tetapi kemampuan
membelok dan ketahanan akan ausnya dari ban tersebut kurang apabila
dibandingkan dengan ban radial.
2. Ban
Radial
Untuk ban radial, konstruksi carcass cord membentuk sudut 90 derajat
sudut terhadap keliling lingkaran ban. Jadi dilihat dari samping konstruksi
cord adalah dalam arah radial terhadap pusat atau crown dari ban. Bagian dari
ban berhubungan langsung dengan permukaan jalan diperkuat oleh semacam sabuk
pengikat yang dinamakan “Breaker” atau “Belt”. Ban jenis ini hanya menderita
sedikit deformasi dalam bentuknya dari gaya sentrifugal, walaupun pada kecepatan
tinggi. Ban radial ini juga mempunyai “Rolling Resistance” yang kecil. Sehingga
susunan seperti ini membuat tread lebih rigid/ kuat.
Ban radial menghasilkan kemampuan membelok dan kemampuan kecepatan
tinggi yang baik serta tahan terhadap putaran rendah. Pada ban ini biasanya
juga memiliki daya tahan aus yang tinggi, tetapi apabila digunakan pada jalan
yang tidak rata (jalan bertonjolan) dengan kecepatan rendah kenikmatan
pengendaraan menjadi kurang.

Gambar 2.3 Ban Radial
2.1.3 BAN BIASA DAN BAN TUBELESS
1.
Ban Biasa Dengan Ban Dalam
Ban biasa di dalamnya terdapat ban dalam untuk
menampung udara yang dipompakan ke dalam ban. Katup atau air valve (biasa
disebut dengan pentil) yang menonjol keluar melalui lubang pada pelek
menjadi satu dengan ban dalam. Ban biasa ini akan segera menjadi kempes
(kekurangan tekanan angin) apabila tertusuk benda tajam.
Side-wall pada ban radial lebih fleksibel agar
mudah terjadi deformasi. Sebagai kompensasi, maka pada ban dalam
untuk ban radial dibuat lebih kuat dari pada untuk ban biasa.

Gambar 2.4 Ban Biasa
KELEBIHAN
DAN KUNGGULAN BAN BIASA
Ban biasa, atau yang biasa disebut dengan ban tube, adalah ban konvensional yang masih menggunakan ban dalam. Masih banyak mobil dan motor yang menggunakan ban biasa ini, terutama di daerah pedalaman yang tidak begitu familiar dengan ban tubeless. Hal itu memang sangat cocok, mengingat ban biasa sangat tahan jika digunakan di jalanan yang kurang begitu bagus, sebab struktur karet lebih empuk.
Keunggulan lain dari ban biasa adalah umurnya yang lebih panjang karena terbuat dari compound yang cukup kuat. Motor yang menggunakan ban biasa sangat nyaman digunakan ketika jalanan macet karena mampu bermanuver dengan baik. Harga ban biasa pun lebih murah dibandingkan ban tubeless, dan ban biasa dapat dipasang pada segala jenis pelek ban.
Ban biasa, atau yang biasa disebut dengan ban tube, adalah ban konvensional yang masih menggunakan ban dalam. Masih banyak mobil dan motor yang menggunakan ban biasa ini, terutama di daerah pedalaman yang tidak begitu familiar dengan ban tubeless. Hal itu memang sangat cocok, mengingat ban biasa sangat tahan jika digunakan di jalanan yang kurang begitu bagus, sebab struktur karet lebih empuk.
Keunggulan lain dari ban biasa adalah umurnya yang lebih panjang karena terbuat dari compound yang cukup kuat. Motor yang menggunakan ban biasa sangat nyaman digunakan ketika jalanan macet karena mampu bermanuver dengan baik. Harga ban biasa pun lebih murah dibandingkan ban tubeless, dan ban biasa dapat dipasang pada segala jenis pelek ban.
KEKURANGAN BAN BIASA
Khusus bagi Anda pengguna ban biasa, kekurangan utama dari ban biasa adalah mudah bocor dan menjadi makanan empuk ranjau paku. Bagi pengendara motor, kalau lagi apes, Anda harus mencari tukang tambal ban yang letaknya sangat jauh dari tempat Anda mengalami ban bocor.
Belum lagi Anda harus mendorong motor hingga jarak yang tak tentu. Lebih sial lagi jika ternyata ban dalam ternyata sudah robek sehingga mau tak mau harus diganti dengan ban dalam baru, tidak bisa ditambal lagi. Dengan demikian, pengeluaran pun akan lebih mahal.
Khusus bagi Anda pengguna ban biasa, kekurangan utama dari ban biasa adalah mudah bocor dan menjadi makanan empuk ranjau paku. Bagi pengendara motor, kalau lagi apes, Anda harus mencari tukang tambal ban yang letaknya sangat jauh dari tempat Anda mengalami ban bocor.
Belum lagi Anda harus mendorong motor hingga jarak yang tak tentu. Lebih sial lagi jika ternyata ban dalam ternyata sudah robek sehingga mau tak mau harus diganti dengan ban dalam baru, tidak bisa ditambal lagi. Dengan demikian, pengeluaran pun akan lebih mahal.
2. Ban
Tubeless
Ban tubeless (biasa disebut dengan ban tanpa ban
dalam) ini tidak menggunakan ban dalam. Tekanan udara hanya ditahan oleh
lapisan ban dalam, yaitu lapisan karet yang kedap udara. Karena ban tubeless
tidak menggunakan ban dalam, maka pentil (air valve) langsung dipasang pada pelek.

Gambar 2.4 Ban Tubless
KEUNTUNGAN PADA BAN TUBELESS
Bila ban tertusuk paku atau benda tajam lainnya, ban
tubeless ini tidak menjadi kempes sekaligus dikarenakan lapisan dalamnya
menghasilkan efek merapatkan sendiri. Sekalipun tertusuknya pada saat kendaraan
berjalan, biasanya tekanan udara tersebut tidak turun secara tiba-tiba yang menyebabkan
pengemudi kehilangan kontrol kendaraan. Ban tubeless ini tidak berarti tahan
terhadap tusukan, tetapi hanya kebocoran udaranya saja yang lambat dibandingkan
dengan ban biasa (ban dengan ban dalam). Bila ban terkena paku atau benda tajam
lainnya tidak menyebabkan kekurangan udara (hal ini tergantung pada ukuran dan
berapa besar terjadinya tusukan pada ban), pengemudi terkadang kurang
memperhatikan bahwa bannya kurang udara. Mengendarai dengan ban tubeless yang
masih ada benda tajam (seperti paku) akan sangat berbahaya, terutama pada
kecepatan tinggi, paku bisa saja akan terlempar keluar, suhu ban akan meningkat
(disebabkan adanya gesekan posisi ban yang kurang udara), menyebabkan ban akan
rusak sebelum ditambal. Oleh sebab itu, disarankan untuk ban radial untuk
setiap kali sebelum menghidupkan mesin agar melakukan pemeriksaan tekanan
udaranya, kemungkinan ada paku ataupun benda lain yang menusuk pada ban itu
sendiri, terutama bila kendaraan sering dikendarai dengan kecepatan tinggi.
KEKURANGAN BAN TUBLESS
Sayangnya, ban tubeless ini hanya bisa digunakan pada pelek racing. Walaupun sudah ada alat yang dapat memasang ban tubeless pada pelek jari-jari, tetap saja risiko bocornya nitrogen tetap ada. Selain itu, kekurangan lain ban tubeless adalah harganya yang relatif lebih mahal dibanding ban biasa. Ban tubeless juga lebih keras dibanding ban biasa karena memiliki struktur karet lebih tebal dan padat.
Karena itu, jika Anda sering melewati jalanan yang rusak menggunakan ban tubeless, justru pelek dan komponen lain akan cepat rusak. Ban tubeless lebih cocok digunakan di jalan yang bagus.
Sayangnya, ban tubeless ini hanya bisa digunakan pada pelek racing. Walaupun sudah ada alat yang dapat memasang ban tubeless pada pelek jari-jari, tetap saja risiko bocornya nitrogen tetap ada. Selain itu, kekurangan lain ban tubeless adalah harganya yang relatif lebih mahal dibanding ban biasa. Ban tubeless juga lebih keras dibanding ban biasa karena memiliki struktur karet lebih tebal dan padat.
Karena itu, jika Anda sering melewati jalanan yang rusak menggunakan ban tubeless, justru pelek dan komponen lain akan cepat rusak. Ban tubeless lebih cocok digunakan di jalan yang bagus.
2.2 SISTEM KODE SPESIFIKASI BAN
2.2.1
Kode Ban
Pada sisi bagian samping ban (sidewall) ban biasanya
terdapat kode yang menunjukkan lebar ban, diameter dalam (diameter pelek), dan
ply rating. Untuk ban kecepatan tinggi terdapat kode tambahan, misalnya H, S,
dan seterusnya. Pada ban radial terdapat huruf R. Diantaranya ada pula yang
mencantumkan aspect ratio


Keterangan :
1. Lebar ban
dalam satuan inch (ban bias) atau milimeter (ban radial)
2. Kecepatan
maksimum yang diizinkan
3. Diameter
pelek dalam satuan inch
4. Kapasitas
maksimum membawa beban dalam satuan ply rating.
5. Aspect ratio
(tingg/lebar ban) dalam persen
6. Ban radial
7. Kapasitas
mengangkut beban (load in dex)

KODE COMPOUND
Kode Compound sebuah ban ditulis dengan kode huruf.
Dengan tujuan menunjukkan ban itu menggunakan kompon yang lunak atau keras.
Kode S = soft atau penggunaan compound lunak, M = medium atau compound sedang
dan H = hard berarti compound ban keras. Pemilihan jenis compoun ban tergantung
dari kebutuhan misal untuk balapan biasanya akan menggunakan jenis compound
soft. Dengan menggunakan ban jenis lebih empuk akan terasa grip roda lebih
mencengkram pada aspal. Tetapi karena sifatnya lunak maka ban akan lebih cepat
habis. Sedangkan jenis medium dan hard biasanya dipakai untuk kendaraan yang
dipergunakan sehari-hari baik untuk motor maupun mobil. Contoh pada ban motor
merek Batllax kode BT 92 F Radial 120/70 ZR17 M/C, dan kode M/C itulah yang
menunjukkan kode M = medium, C = Compound.
2.2.2 UMUR PRODUKSI
Tidak hanya makanan yang diberi label tanggal
kadaluarsa, tapi ban kendaraan juga. Untuk itu pentingnya mengetahui dan cara
membaca kode tersebut pada sebuah ban. Ban akan kedaluwarsa (expired) dalam
kurun waktu 3 tahun setelah ban tersebut diproduksi. Kode produksi dicetak di
bagian samping ban dekat dengan velg. Setiap pabrik ban memiliki jumlah kode
digit tersendiri untuk menandai ban hasil produksinya dari 5-8 digit. Tetapi 4
digit angka dari belakang adalah standard international yang menunjukkan Minggu
dan Tahun ban tersebut diproduksi.Contoh seperti pada BPY0806 maka dapat dapat
diartikan ban tersebut diproduksi minggu ke-8 tahun 2006. Sedang seperti pada
kode CJJ5101 berarti ban diproduksi pada minggu ke-51 tahun 2001.
PERAWATAN BAN
Ban adalah bagian mobil yang bersinggunan langsung
dengan permukaan jalan. Oleh karena itu harus ditangani dan dirawat dengan
benar agar dapat diperoleh pengendaraan aman, nyaman dan ekonomis.Tekanan udara
pada ban adalah faktor penting bagi kemampuan dan keselamatan berkendara.
Meskipun ban dibuat dari bahan yang rapat, udara masih dapat bocor meskipun
sedikit. Oleh karena itu tekanan udara pada ban harus diperiksa secara teratur
dan disesuaikan dengan spesifikasinya.
2.2.3 Gesekan Pada Ban
Arah gaya gesek selalu
berlawanan arah dengan gaya luar yang menggerakkan benda sehingga gaya gesek
bersifat menghambat gerak benda. Jadi, jika arah gaya luar ke kiri, arah gaya
gesek ke kanan. Sebaliknya. jika gaya luar ke kanan, arah gaya gesek ke kiri. Gaya gesekan dapat dibedakan
menjadi dua, yaitu gaya gesekan statis dan gaya gesekan kinetis. Gaya gesekan
statis adalah gaya gesek yang bekerja pada benda selama benda tersebut masih
diam. Sedangkan, gaya gesek kinetis adalah gaya gesek yang bekerja pada saat
benda dalam keadaan bergerak. Gaya ini termasuk gaya disipatif yaitu gaya
dengan usaha yang dilakukan akan berubah menjadi kalor.
Kekasaran permukaan jalan adalah merupakan
faktor utama yang mempengaruhi koefisien gesek antara ban dan jalan. Untuk
jalan yang kering dengan permukaan yang halus akan memberikan koefisien gesek
yang besar antara ban dan jalan, namun sebaliknya jika dalam keadaan basah maka
akan memberi koefisien gesek yang kecil.
Easton dan Moore melakukan studi tentang koefisen gesek, dari data yang
dihasilkan dapat dirumuskan pengaruh kecepatan dan kekasaran permukaan jalan
terhadap koefisien gesek ban dan jalan.
J.L Harned, Johnston dan sharpt juga di dapat hubungan antara koefisien
gaya rem dan skid dari roda untuk berbagai jenisi kondisi
jalan. JJ.Taborek dari hasil studinya memberikan Koefisien adhesi rata-rata
antara ban dan jalan untuk bermacam jenis jalan.
Hasil eksperimennya menunjukkan bahwa koefisien adhesi pada saat roda lock bukanlah
harga terbesar. Harga Koefisien adhesi terbesar terjadi pada saat skid sekitar
15-20%. Tsuchiya Watanabe dan Matsuka memberikan hubungan antara gaya belok
(samping) dengan sudut slipuntuk ban gundul dan ban
baru. Terlihat bahwa pada gaya samping yang sama, ban gundul mempunyai
sudut slip lebih kecil dibanding dengan ban baru disebabkan
adanya konstribusi dari kembangan ban terhadap sudut slip. Philip
menyatakan untuk ban bias maupun radial, gaya traksi atau gaya rem
pada gaya lateral yang sama akan menaikkan besarnya
sudut slip.
S.K Clark dari National Bereau of Standards, USA, menunjukkan bahwa ban
radial umumnya mempunyai koefisien hambatan rolling lebih
kecil dari ban bias, hal ini lebih terasa pada kecepatan yang lebih tinggi.
Untuk ban yang tanpa kembangan mempunyai koefisien hambatan rolling yang
jauh lebih kecil dibanding dengan ban kembangan. Ban yang terbuat dari karet
sintetis compound umumnya mempunyai koefisien hambatan rolling sedikit
lebih tinggi dibanding jika memakai karet alam.
2.2.4 Gaya Adhesi dan
Gaya Hysteris
Kekasaran permukaan jalan ditunjukkan dalam bentuk tonjolan-tonjolan yang
akan kontak dengan karet dari ban. Jika gaya F terjadi tangensial pada
permukaan jalan, dimana permukaan karet bergerak relative terhadap permukaan
jalan, maka karet yang elastis akan mengikuti bentuk kekasaran dari permukaan
jalan. Akibat gerakan tersebut akan terjadi gaya gesekan sebesar F yang arahnya
berlawanan dengan arah gerakan yang terdiri dari komponen gaya adhesi dan
gaya hysterisis.
F = F adh +
F hyst…..(2.1)
Dimana:
F = Gaya gesekan
Fadh = Gaya adhesi
Fhyst = Gaya hysterisis
Gaya hysterisis terjadi karena adanya distribusi tekanan
yang tidak simetris pada karet. Jika tidak terjadi gerakan relatif antara ban
dan jalan maka distribusi tekanan pada ban cenderung simetris dan
gaya hysteris tidak terjadi. Jika terjadi kecepatan relatif
yang makin besar maka distribusi tekanan makin tidak simetris dan gaya hysterisis akan
makin besar. Jika jalan halus dan keras maka komponen gaya hysterisis tidak
ada, gaya gesekan seluruhnya disebabkan oleh gaya adhesi. Sebaliknya jika
permukaan jalan adalah kasar dan penuh dengan pelumasan maka komponen gaya
adhesi tidak ada. Jika setiap komponen persamaan 2.1 dibagi dengan W maka di
dapat persamaan koefisien gesek sebagai berikut:
μ = μadh +μ hyst……(2.2)
Dimana:
μ = Koefisien gesek total
μadh = Koefisien adhesive
μhyst = Koefisien hysterisis
Secara keseluruhan koefisien dari hambatan rolling dipengaruhi
oleh banyak faktor dengan hubungan yang kompleks sehingga sangat sulit dicari
perumusan matematis dari hubungan tersebut. Karena rumitnya fenomena interaksi
faktor-faktor pengaruh dari hambatan rolling maka besarnya
hambatan rolling masih bergantung pada hasil eksperimen. Rumus
empiris pertama yang dihasilkan dari eksperimen adalah koefisien hambatan rolling (fr)
untuk ban dari kendaraan penumpang yang berjalan pada jalan beton.
fr = fo + fs (100V )2.5
(2.3)
Dimana:
fo dan fs = Koefisien tergantung pada tekanan ban
V = Kecepatan kendaraan, km/jam
Penelitian gaya gesek
dan gaya dorong pada ban dan jalan
1. Menentukan tipe kondisi jalan yang dilalui
untuk analisa data.
2. Menentukan tipe ban yang digunakan untuk analisa data.
3. Memilih model tipe kendaraan yang diuji
4. Menentukan nilai pada Cd (drag
coefficient) prototype model dengan variasi yaw 0,5,10,15,20.
5. Melakukan variasi parameter kecepatan
kendaraan untuk memperoleh gaya dorong gabungan pada tingkat transmisi
kendaraan.
6. Menampilkan kurva parameter gaya dorong
gabungan terhadap kecepatankendaraan.
7. Melakukan analisa terhadap parameter
desain yang dipergunakan.
8. Menarik kesimpulan dari pernyataan yang
diperoleh.
Model Kendaraan yang
Digunakan
Dimensi
Wheel base : 2820 mm
Wf,r :1230/1460 kg
Engine:
Torsi maksimum:440
Nm/3700 rpm
Kesimpulan
Dari hasil penelitian tersebut
diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1. Gaya traksi terbesar untuk ketiga kontak
permukaan jalan (batu kwarsa, beton, aspal) terjadi pada ban bias.
2. Variasi sudut yaw untuk berbagai
kondisi jalan tidak banyak mempengaruhi.gaya traksi kendaraan tapi dapat
mempengaruhi kestabilan.
3. Gaya traksi terbesar terjadi pada kondisi jalan batu kwarsa
dan yang terkecil di permukaan jalan aspal.
4. Pemilihan ban radial sebagai alternative untuk konsumsi
bahan bakar yang lebih irit dibanding dengan menggunakan ban bias.
5. Tingkat
kemanan lebih baik menggunakan ban radial disbanding ban bias karena bila rem
kurang bekerja maksimal akan terjadi kecelakaan yang fatal akibat benturan
besar.